Afrakids Story

Yang Tersisa Hanya Keyakinan

Semua ini berawal dari pertemuan yang telah ditakdirkan.

Saat itu di tahun 2013, Muhammad Maula Nuruddin Al-Haq berangkat dari rumah untuk mengikuti sebuah pelatihan internet marketing di daerah Solo. Bagi orang-orang yang bergerak di dunia maya, seharusnya nama National Bootcamp (NBC) sudah tidak asing lagi.

Saat itu, sebenarnya Maula ketar-ketir, cemas setengah mati. Sebab, ia mengaku bahwa uang di kantongnya begitu tipis. Bencana finansial tengah meninju-ninju wajah Maula, menjatuhkannya ke titik terbawah dalam hidup.

Maula harus menghemat demi bertahan hidup, harus memutar otak untuk menghirup nafas hari demi hari. Bahkan, pernah pada suatu malam sehabis bertemu dengan klien, Maula tidak bisa pulang ke rumah karena uang di kantong sudah habis.

“Gue cuma bisa tercenung di atas jembatan, memandangi puluhan mobil mewah yang berseliweran di jalanan Jakarta. Gue kedinginan terkena angin malam Jakarta, bingung gimana caranya pulang…”, kata Maula.

Untunglah, ketika Maula membongkar-bongkar tas ranselnya, ada beberapa recehan yang bisa ia pergunakan untuk sekadar naik angkot. Beberapa uang logam yang menyelamatkannya di malam itu.

Maula bertekad bahwa ia harus berubah. Semua ini tak boleh terjadi lagi. Namun, bagaimana caranya? Maula merasa bahwa yang ia lakukan terasa membentur tembok-tembok bata, tinggi dan tak terjangkau oleh tangannya.

Lalu ia menemukan jawabannya: ilmu. Bahwa ilmu tidak akan berkhianat. Bahwa ilmu –dengan niat yang ikhlas- pasti akan membawa kebaikan bagi pemiliknya.

Ilmu adalah sesuatu yang begitu berharga sampai-sampai Allah swt menempatkan ilmu di wahyu pertama agama Islam. “Iqra!” (bacalah), firman-Nya kepada Rasulullah saw.

Maka, di tengah situasi yang tidak kunjung membaik itu, Maula malah nekad mengikuti pelatihan digital yang harganya bagi Maula ada di langit ketujuh. Jauh sekali.

“Gue merogoh rekening bank sampai ke dasar-dasarnya. Gue berusaha meyakin-yakinkan diri. ‘Insya Allah ini bener, insya Allah ini semua nanti terbayar pada waktunya!’ Saya berusaha percaya sama Allah swt”

Dari sinilah kisah Afrakids bermula.

NBC 15 di Solo, tempat Maula dan Hisyam berkenalan

 

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

“Kita tidak bertemu seseorang karena sebuah kebetulan”, kalimat itu tertulis di sebuah blog, “Mereka bersinggungan dengan hidup kita tersebab sebuah alasan..”

Mungkin itu yang Maula rasakan. Di National Bootcamp, Maula bertemu dengan Hisyam Hasanah, lelaki plontos bersuara keras dan memiliki sifat ceplas-ceplos. Beberapa temannya memanggilnya dengan sebutan “habib” karena wajahnya yang kearab-araban.

Ya, memang takdir Allah swt begitu. Tanpa disangka, Maula Nuruddin Al-Haq dan Hisyam Hasanah bersama dalam satu kamar.

“Mas Hisyam masuk ke kamar dengan menjeblak pintu dan bersuara keras. Gue bergumam, ‘siapa nih orang? Aneh banget..’”

Mereka pun berdiskusi hingga pukul 3 pagi. Ternyata, keduanya juga tengah dihantam oleh dunia hingga jatuh ke titik terbawah. Apakah mereka berdiskusi soal digital atau bisnis? Tidak sama sekali.

“Kami bahas umat dari berbagai sudut pandang agama, filsafat, ideologi, dan lain-lain”, Maula menerangkan pada suatu pagi. “Nemu solusi? Nggak. Itu hanya diskusi tingkat tinggi yang memuaskan akal saja”

Tak ada bahasan tentang dunia, tentang bisnis, tentang uang.

Setelah itu jadi bisnis? Tidak.

Setelah itu masalah umat selesai? Tidak.

Namun, bagaimanapun juga, diskusi adalah awal perubahan. Jikalau kita menengok literatur, semua perubahan pasti bermula dari diskusi, sebagiannya adalah diskusi random yang tak terencana.

Hisyam Hasanah yang sekarang menjadi CEO Afrakids

Setelah acara National Bootcamp, Maula dan Hisyam terus berdiskusi via telepon atau SMS. Membicarakan bisnis? Belum sama sekali. Masa berbulan-bulan berikutnya, kedua pendiri Afrakids ini mengobrol soal umat dan borok-borok yang ada di dalamnya.

Sampai suatu ketika Hisyam mengajak Maula ke konveksinya yang terletak di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan.

“Sesampainya di sana, gue melihat konveksi yang lumayan besar. Gue malah kepikiran untuk bikin kaos kampus waktu itu. Afrakids? Belum terpikirkan…”, tutur Maula.

Satu-dua bulan pun berlalu.

 

Awal Mula

Pada suatu waktu, sebuah acara gathering alumni NBC (National Bootcamp) dilangsungkan di Jakarta. Keduanya, Maula dan Hisyam, memutuskan untuk ikut dan bertemu di sana.

“Gimana kaos kampus lo?”, Tanya Hisyam kepada Maula.

“Nggak jadi, ada banyak halangan..”, Maula menjawab.

 

Tak berapa lama, dialog ini tercipta dengan begitu cepat.

“Apa hal konkret yang bisa kita buat untuk agama kita? untuk umat?”

“Jadi ustadz nggak mungkin. Potongannya aja berandalan ha ha ha..”

“Apa yang bisa kita kerjain nih?”

“Gue udah capek sebenernya produksi brand orang terus. Gimana kalau kita bikin brand sendiri”

“Gue tau digital marketing dan branding. Lo bisa produksi dan konveksi..”

“Gimana kalo kita bikin kaos anak muslim? tapi harus berdakwah kontennya. Dibuat bener. Nggak ngasal…”

“Iya, desainnya itu implementasi dari diskusi kita berbulan-bulan. Kan itu lebih konkret…”

“Oke, yuk kita buat. Kapan lo bisa ke workshop gue?”

“Secepatnya…”

 

Little Muslim

Beberapa waktu sesudahnya, Maula dan Hisyam meluncurkan Little Muslim. Mereka pun mengajak beberapa orang untuk bergabung dengannya. Saat itu, sistem marketing Little Muslim belum seperti sekarang. Ia masih menjajakan kaosnya di Jl.Nusantara Raya no.302, Depan SMAN 1 Depok, Kota Depok, Jawa Barat. Desain yang ada pun belum seperti yang ada sekarang.

Desain Little Muslim

Beberapa contoh desain Little Muslim yang saat ini sudah tidak dijual

Surat Cinta Afrakids

Memang tidak mudah mengelola Little Muslim saat itu. Namun, duo Maula dan Hisyam, dibantu dengan tim awal Little Muslim, terus belajar sedikit demi sedikit. Sampai di suatu titik, Little Muslim kembali membentur tembok.

Little Muslim terjual banyak, tapi tim tidak puas.

Mari dengar penuturan Maula sendiri saat menerangkan bagian ini,

“Little Muslim terjual banyak, sih, tapi belum spektakuler. Bagi gue, Little Muslim waktu itu sudah stuck, sudah sampai batasnya. Tim awal Little Muslim waktu itu berpikir keras gimana caranya ya untuk ngubah situasi nggak menguntungkan ini..”

“Kami kerja hampir 24 jam setiap hari (gue sering banget sampe rumah itu di atas jam 12 malem), kesana-kesini menyebarkan value care & sharenya, mikir konsep kreatif di ratusan kertas HVS.

“Gue juga riset ratusan perusahaan yang valuenya bagus dan gue peras jadi value internal, splitting test strategi marketing sampai mata soak, di dalam tidurpun gue masih mikir (sudah berlangsung berbulan-bulan). Orang yang ngeliat gue saat itu (2014) pasti ngeliat gue kelelahan banget mukanya.

“Iya emang lelah banget, tapi gue HAPPY, ya gue happy ngejalanin ini semua.”

Debat dan brainstorming yang melelahkan pun berlanjut kembali selama 7 bulan demi melahirkan brand baru.

Setelah 5.040 jam diskusi dan ikhtiar dilalui, akhirnya konsep brand baru Afrakids telah lahir.

Suasana konveksi awal Afrakids

Terus Melaju

Afrakids saat ini telah memiliki ratusan agen dan ribuan reseller. Mereka tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ke mancanegara.

Para agen dan reseller sebenarnya adalah dai-dai Islam. Bersama dengan mereka, Afrakids akan mengukir perpaduan antara dakwah dan bisnis di bidang kreatif.

Mari kita berdoa agar Allah menguatkan langkah-langkah kita.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

 

Tim Digital Afrakids