Blog, Parenting Muslim

Mengapa Allah Merahasiakan Lailatul Qadar (7+)

“Ayah, malam ini masjid jadi rame banget ya! Bukan cuma kita aja yang nginap malam ini ya,” kata Alif selepas shalat tarawih di masjid. Malam ini sudah malam ke-21 Ramadhan, Alif sekeluarga mulai itikaf bersama

“Iya Lif. Semuanya itikaf untuk mendapat Lailatul Qadar.”

“Lailatul Qadar itu apa sih Yah?”

“Lailatul Qadar itu malam penuh kemuliaan, Lif. Ibadah di malam itu dihitung seribu bulan.”

“Hah? Seribu bulan?”

“Iya, Lif. Seribu bulan itu berapa tahun coba?”

“Hmmm, berapa ya? Satu tahun itu 12 bulan. Kalau seribu bulan itu berapa ya?” Alif bertanya-tanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Hehe, kamu belum belajar pembagian ya. Seribu bulan itu 83 tahun, Lif. Jadinya ibadah satu malam, dapatnya pahala 83 tahun. Makanya banyak yang itikaf.”

“Oooh gitu ya. Emangnya lailatul qadar itu kapan sih Yah?”

“Cuma Allah yang tahu waktu tepatnya. Tapi kata Rasulullah, kita diminta cari di 10 malam terakhir bulan Ramadhan.”

“Kenapa Allah rahasiain, Yah?”

“Hmmm, soalnya Allah senang ketemu sama kita, Lif.”

“Senang, Yah?”

“Iya, Lif. Karena Allah rahasiain, jadinya kita lebih banyak itikaf di rumah Allah kan. Coba kalau Allah kasih tahu tanggalnya, jadinya kita cuma itikaf 1 malam aja. Karena Allah rahasiain, kita jadi makin banyak ketemu Allah-nya kan.”

“Oooh gitu ya, Yah.”

“Iya, karena Allah rahasiain, kita jadi lebih bersungguh-sungguh ibadah di 10 malam terakhir, karena kita nggak tahu di malam mana kita bakal dapat lailatul qadar.”

“Seru ya, Yah nginep di masjid gini. Dapat pahala banyak lagi,” kata Alif senang.

Ayah Bunda,

Lailatul Qadar adalah satu hal yang Allah rahasiakan. Umar bin Khathab RA berkata, “Sesungguhnya, Allah merahasiakan enam perkara di balik enam perkara.”

6 hal tersebut adalah:

1. Allah merahasiakan ridha-Nya di balik ketaatan hamba-Nya
2. Allah merahasiakan murka-Nya terhadap hamba-Nya yang “berani” melakukan kemaksiatan
3. Allah merahasiakan kapan datangnya malam kemuliaan (lailatul qadar)
4. Allah merahasiakan wali-Nya terhadap hamba-Nya
5. Allah merahasiakan datangnya ajal (kematian) di balik umur hamba-Nya
6. Allah merahasiakan datangnya waktu shalat Wustha

Lailatul Qadar merupakan malam penuh kemuliaan yang Allah berikan. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)

Kemuliaan itu Allah jelaskan pada beberapa ayat berikutnya. “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar : 3-5)
Allah merahasiakan waktu datangnya lailatul qadar. Petunjuk yang Rasulullah sampaikan adalah lailatul qadar itu turun pada akhir bulan Ramadhan.

Aisyah berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari)

Ada hikmah yang bisa kita ambil dari setiap hal yang Allah rahasiakan. Di antaranya adalah membuat kita lebih bersemangat menjemput lailatul qadar itu. Kerahasiaan lailatul qadar membuat kita beribadah dengan giat pada 10 malam terakhir, bukan hanya pada 1 malam saja. Tentu dampaknya baik bagi kita, amalan kita menjadi lebih banyak.

Menjawab pertanyaan anak tentang lailatul qadar ini bisa kita arahkan agar anak memiliki imaji positif tentang Allah. Ini dilakukan karena sikap Allah kepada kita sesuai dengan persangkaan kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika anak memiliki persangkaan positif tentang Allah, maka kita sudah memberi anak bekal yang sangat berharga. Persangkaan positif membuat anak senang bertemu dengan Allah, sehingga Allah pun menjadi senang untuk bertemu dengannya.

Abu Musa al-Asy’ari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari)

Selamat menjemput Lailatul Qadar. Semoga Ramadhan kita tahun ini penuh keberkahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *