Ayo Jadi Pahlawan Umat

Kp. Kukuk Sumpung, Desa Gobang, Kec. Rumpin, Bogor

Mungkin beberapa dari kita sudah mengetahui daerah Rumpin, Bogor. Hanya 3 jam dari Jakarta, si ibu kota. Februari lalu, tepatnya tanggal 24, tim Desa Quran berkunjung ke Kampung Kukuk Sumpung, Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Bogor. Hal pertama yang perlu kami pahami adalah akses menuju kampung tersebut. Selain akses yang cukup sulit, sinyal telpon atau hand phone pun sulit didapat.

Kami menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dengan menggunakan mobil dari Depok menuju Balai Desa. Namun, perjalanan belum berakhir. Selang beberapa menit setelah kami sampai di Balai Desa, rombongan motor menghampiri dan siap mengantar kami menuju kampung tujuan.

 

Awal perjalanan dengan motor dimulai. Sawah di kanan dan kiri seakan menyapa dan kami mulai memasuki jalan mendaki. Naik, turun, tikungan, jalan kecil, terjal dan licin mahir dilalui oleh pengendara-pengendara motor di kampung ini. Beberapa dari kami sempat terjatuh dari motor lantaran kondisi jalan yang cukup ekstrim.

Akses jalan saat ini sudah jauh lebih baik, sebagian sudah berupa cor semen. Sekitar 1 jam, kami pun sampai di kampung tersebut. Kukuk Sumpung. Di kampung dengan jumlah 150 kepala keluarga ini, kami dijamu dan disiapkan tempat menginap di rumah Pak RT.

Sejenak beristirahat sambil mengamati lingkungan sekitar. Sama seperti kampung-kampung di perbukitan pada umumnya. Rumah-rumahnya sederhana. Dinding-dinding rumah tegak terbentang antara kolom-kolom kayu, tak banyak yang bata, dari anyaman kayu. Terselip di antaranya, kaca-kaca nako ukuran kecil untuk sirkulasi udara dan cahaya.

Hampir semua sudah beratapkan genteng dan sebagian besar beralaskan lantai semen yang di-furnish licin mengkilat. Bukan demi konsep industrialis, ini memang untuk memudahkan mereka membangun sebuah tempat tinggal yang terjangkau dan mudah dibersihkan. Ya, mudah dibersihkan dari beceknya jalan tanah kampung ini. Hujan sedikit, coklat sudah alas kaki kami. Bayangkan, kalau saja warga kampung ini memasang lantai ubin atau marmer? Habis sudah jatah lauk diganti cairan pembersih lantai, pel sana-sini.

Hal ini karena sistem drainase atau pembuangan air kampung ini yang bisa dikatakan belum layak. Tidak ada aliran pembuangan air bekas (selokan) di sekeliling kampung. Warga hanya membuat tanah sedikit cekung untuk mengalirkan air pembuangan ke dataran yang lebih rendah. Bahkan ada, beberapa mungkin, rumah yang membuang air kotor dari kamar mandi mereka melalui pipa tanpa adanya septic tank yang jelas.

Namun, tak sedikit rumah yang belum memiliki kamar mandi sendiri. Dengan kondisi seperti itu, kampung ini menyediakan MCK umum untuk perempuan dan laki-laki. Pembatas ruang MCK terbentuk dari dinding beton dengan tinggi 2 meter. Diikuti dengan kolam penampungan air yang built-in dengan dinding-dinding pembatas. Tentu dengan satu konsep alami berikutnya muncul dari tidak adanya penutup atas di MCK umum tersebut.

Masih di Kukuk Sumpung. Pertumbuhan warga kampung ini terhitung cukup tinggi. Saat ini ada sekitar 300 anak dijenjang usia SMP dan SD. Pemuda-pemudi tanggung pun banyak tersebar. Sebagian ikut bertani atau pergi ke hutan. Sebagian lainnya ikut membuat keripik pisang dan gula merah alami. Lokasi sekolah mereka cukup jauh di bagian bawah, sebut mereka. Luas rupanya. Lapangannya masih merah tanah yang ternyata juga memerahkan lantai-lantai kelas mereka. Sulit untuk dibersihkan. Mungkin sulit juga untuk bisa nyaman. Tetapi ini yang mereka punya dan dengan senyum mereka belajar di rumah mereka, Kukuk Sumpung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *