Kisah Inspiratif

E-mail Cinta

Saya bukan orang romantis. Hmm jika disuruh bercerita asmara, tentu saya tak ahli. Namun, saya ingin berbagi kisah tentang seseorang yang romantis di masa lalu…

Saya pernah mendapat tugas membuat artikel di kelas sastra empat belas tahun yang lalu dan diminta untuk mengirim via e-mail. Sementara, kami masih awam internet kala itu. Beruntung saya sudah bisa walaupun hanya browsing dan kirim email saja. Banyak temanteman yang meminta bantuan kepada saya, ya hitung-hitung belajar menggunakan e-mail.

Ketika sedang mengakses e-mail, tiba-tiba saya mendapatkan pesan masuk. Kemudian saya buka pesannya dan ternyata berisi gambar hati merah muda bertuliskan kalimat bahasa Inggris yang artinya “Bahagiakan Hidupmu Setiap Hari dengan Senyum”. Ternyata semua teman-teman saya tahu dan si pengirim adalah salah satu teman laki-laki di dalam kelas.
Keesokan harinya, berita sudah tersebar di satu kelas. Begitu pun dosen juga mengetahui hal ini.  Berita itu menjadi bahan candaan di tengah proses belajar-mengajar saat suasana tegang. Aduh malunya… Salah satu teman saya mengatakan kalau wajah saya sampai merah.
Saat istirahat, si pengirim pesan menghampiri saya dan meminta maaf atas pesan yang ia kirim. Ia mengatakan bahwa pesan itu tak sengaja terkirim karena sedang mengirim salah satu gambar yang menurutnya bagus dari aplikasi di internet. Ketika itu pertama kalinya ia belajar kirim email dan hanya ada satu alamat email, yaitu email saya.
Meski tak ada maksud apa-apa dibalik pesan itu, tetapi berita sudah terlanjur tersebar. Mereka sering mengejek saya dan si pengirim email seolah kami berpasangan. Ejekan itu bertahan hampir enam bulan. Saya juga heran kenapa begitu.
Hingga suatu hari si pengirim email datang kemudian bertanya mengapa ejekan bisa bertahan lama, apakah betul saya memendam rasa untuknya. Saya katakan bahwa perasaan saya biasa saja dan tak ada yang istimewa. Kemudian ia bertanya lagi, “Bagaimana jika apa isi pesan waktu itu adalah benar adanya dan memang disengaja?”
Saya tak dapat berkata apa-apa. Butuh waktu satu menit untuk menjawabnya. Sepertinya wajah saya kembali memerah. Saya jawab sebisanya, “Kita berteman saja ya.” Menurut saya itu adalah jawaban paling ringan, tak berisiko.
Sejak saat itu status kami hanya berteman saja. Saya tidak yakin siapa pasangan yang nanti akan direstui orang tua, dan tidak mau menanggung resiko patah hati jika hubungan harus berakhir.

Saya lebih suka laki-laki yang serius, bukan hanya laki-laki yang mengajak pacaran. Laki-laki harus siap menjadi pemimpin rumah tangga dan ayah dari anak-anak.

Saya sudah tidak berteman lagi dengan si pengirim email itu. Sekarang dia menjadi coach Zeeva Afrakids, membantu dakwah yang tertulis pada kaos, lunchset, dan tas sekolah. Iya… dia telah menjadi suami dan anak-anak saya sekaligus pemilik Zeeva Afrakids.

Saya sudah tak pernah merindukannya lagi karena saya telah bersamanya. Ia adalah orang pertama yang saya lihat saat membuka mata di pagi hari. 🙂
Ayah bunda ingin mendapat pesan dakwah online serta ingin memesan kaos Afrakids yang keren?
Yuk kontak alamat di bawah ini! 🙂

KLIK zeeva.bazarafra.com
BBM : 5E317227
WA : 082257739840

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *