Ayo Jadi Pahlawan Umat

Aceh, 2 X 24 Jam

(Sebuah Catatan Perjalanan Menyentuh demi Membantu Korban Gempa di Pidie Jaya, Aceh))

Rumaishatul Ulya,
Tim Desa Quran

Baru kemarin rasanya. Ketika tiba-tiba diamanahkan untuk belajar turun langsung ke masyarakat. Bukan kali pertama sebenarnya. Tapi bukan juga aku sudah terbiasa dengan hal tersebut.

Kali ini agak berbeda. Lokasinya ada di agak ujung pulau sana, pulau Sumatera, tepatnya di Aceh. Senang aku, sekali lagi diberi kesempatan melihat bumi Indonesia bukan hanya sekitar pulau Jawa.

Senang aku, akhirnya salah satu kota yang ada dibenak entah sejak kapan bisa aku jajaki. Walaupun hanya sebentar. Walaupun hanya untuk bertegur sapa. Walaupun hanya untuk merekam memori.

Ya, kali ini kunjunganku berbeda. Kali ini kunjunganku mengatasnamakan kemanusiaan. Kali ini kunjunganku, mungkin, terasa begitu banyak citra. Berat. Menyampaikan sesuatu dengan benar itu berat karena hati mudah sekali terkoyak oleh nafsu dan pikiran egois diri. Di situ, alasanku belajar.

Turun ke masyarakat berarti belajar berinteraksi, menggali “hablum minannas” dengan niat “hablum minallah”. Di tambah, tujuan utama kunjungan atau silaturrahim aku dan tim adalah untuk menyampaikan donasi.

Sebagian wujud kemanusiaan yang masih banyak di bumi ini. Donasi untuk saudara-saudara kita di Pidie Jaya, Aceh. Kalian tahu apa yang telah terjadi di sana? Bukan, bukan Tsunami. Iya, gempa bumi. Gempa dengan kekuatan 6.5SR mengagetkan alam Aceh, terutama di Pidie Jaya.

Jalanan Aceh yang sepi sukses membuat aku terpesona selama (kurang lebih) 4 jam perjalanan dari Bandara Sultan Iskandar Muda hingga ke Gampong Abah Lueng, Pidie Jaya.

Bagaimana tidak.. mobil hanya terhitung satu dua berkejar-kejaran dengan indahnya alam Aceh sepanjang perjalanan. Sawah, hutan, pegunungan, bahkan senyum warga di warung pinggir jalan menjadi suatu yang sangat mahal rasanya. Ah, manusia.

Jalan terus berliku, mendaki dan turun lagi. Berulang berkali-kali dengan sambutan segerombolan sapi menghadang kami. Tapi tawa yang lantas terlepas dari kami, atau hanya aku, si anak kota yang rindu desa.

Senang aku, sapi-sapi itu terlalu merasa aman ada di alam ini. Padahal mereka sedang berhadapan dengan badan besi beroda empat yang bisa saja menabrak mereka. Ah, manusia.

Udara sejuk tak henti-henti. Jalan mengecil, bersahutan sambut tawa anak-anak menyapa kami. Sudah tiba rupanya. Di sebelah kanan dekat sawah itu ada sauyng sederhana dengan beberapa spanduk bantuan bencana. Tepat di sebrangnya, adalah pusat posko bencana, kami pun membentangkan spanduk 2 x 1 bertuliskan “Aceh Kita” di sana.

Belum sempat aku menurunkan barang bawaan, ibu-ibu juga anak-anak menghampiri kami, lalu bersalaman. Ku cium tangan ibu itu hampir bungkuk sempurna karena postur sang ibu tak lagi tegap. Tapi seketika itu pula sang ibu balik mencium tanganku. Lantas aku kaget, tapi sang ibu langsung menarikku dan cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri). Oh, ternyata begini salaman mereka. Tapi sungguh aku terkejut dengan cara itu. Apalah aku yang masih seumur jagung dibanding mereka.

Canggung bukan main seketika dikelilingi ibu-ibu Abah Lueng. Cengar-cengirku berbalas cengar-cengir mereka, ekspresi panik harus berbuat apa saat itu.

Setelah memperkenalkan nama dan merasa itu cukup sebagai permulaan, barulah beberapa ibu berbicara dengan kami. Ya. Dengan bahasa Aceh. “Hah?” “Maaf, apa bu?” “Kenapa? Maaf saya ga ngerti bu” sambil senyum canggung kebingungan mereka sedang tanya apa sama kami. Malah tawa yang pecah dari mereka karena melihat kami kebingungan. Kami pun ikut tertawa, menertawakan diri sendiri tepatnya.. hahahaha. Akan tetapi, ada ibu yang bisa berbahasa Indonesia dan dengan sabar menerjemahkan untuk kami. Suasana pun mencair dengan kelas bahasa Aceh dadakan siang itu.

Semilir angin membawa pesan senja. Semakin menekan rasa lelah perjalanan sehari penuh. Tapi tidak sore itu. Dengan lincah aku diajak main di sekitar posko oleh anak-anak Pidie. “Kak, kita main e kak?” “Kak, kita ngaji e kak?” “Kak, tepuk diam kak”. Antusias tinggi terlihat dari mata-mata mereka yang seakan tak mau cepat lelah walau langit meredup.

Kami mencoba membalas dengan antusias yang sama. “Iya, ayo kita main!” “Main apa yaa?” “Kalian tahu tepuk salut?” “Eh, siapa.. yang bisa… bikin suara kataak?”. Pecah senja Pidie Jaya tanah Abah Lueng dengan suara katak imitasi yang aku peragakan. Ditambah gelak tawa mereka yang geli mendengarnya, sembari mencoba sendiri. Hingga semakin larut, kami pun harus menyudahi gerak permainan dengan anak-anak. “Esok kami datang lagi e kak? Hmmm… jam tujoh!” “Hah? Jam tujuh? Pagi bangeet,” jawabku yang mungkin biasa bangun siang. “Tak pagi lah tu… ye kak? Jam tujoh e? Oke lah kak, kami pulang dulu e, assalamualaikum!”

Belum sempat aku mengiyakan, mereka sudah menyetujui untuk bertemu lagi esok hari jam tujuh pagi. Bergantian bersalaman, melambaikan tangan tanda berpisah untuk pulang ke rumah hari itu.

Sungguh tak lagi ada kesedihan yang terlihat. Guncangan yang cukup memporak-porandakan atap dan alas tidur mereka, seolah hanya gigitan kecil biasa yang mudah dilupa. Entah sengaja ditutupi atau memang sirna semua? Tabah sekali wahai kalian, penghuni tanah Aceh. Bagilah sedikit ilmu ketabahan, kesabaran dan kerendahhatian kepada kami, khususnya aku. Anak yang terlanjur lahir di kota. Merasa sendiri dan ego meninggi. Sulit membumi padahal kaki jelas berpijak.

Senja bergulir, malam menjemput. Jangkrik-jangkrik bernyanyi, nyamuk-nyamuk sibuk mencari. Alam Abah Lueng mulai beristirahat. Ditandai dengan hanya satu dua lampu jalan yang menerangi persawahan. Sunyi, sepi, gelap. Inilah malam kami. Satu dua warung masih hidup dengan tv 31 inch yang dipasang diatas, ditonton beberapa bapak sambil nyeruput kupi, menyeka penat sehari di ladang. Sekali lagi, inilah malam kami.

Berubah dan kami rasa selama 2 x 24 jam di tanah Serambi Mekkah. Mencicipi masakan desa ala kadarnya tapi nikmat tak terkira. Menyapa warga, menyambut senyum sumringah sepanjang jalan. Berbagi bahasa, beralaskan tikar. Jernihnya air, indahnya mata memanja pandang. Ah, manusia.

Kalian tahu apa yang menyenangkan dari sebuah perjalanan? Adalah harga sebuah perpisahan. Kalian tahu apa yang membahagiakan dari gerak kemanusiaan? Adalah diri yang belajar untuk kembali. Kalian tahu apa yang lebih mengasyikkan? Adalah sebuah perjalanan dalam gerak kemanusiaan.

Lagi-lagi ini bukan kali pertamaku, tapi selalu menjadi awal pelajaran baru dalam kelas kehidupan. Selalu terngiang pada nasib anak-anak dan potensi alam yang begitu kaya. Sayang kalau keinginan materiil yang mendominasi Gampong Abah Lueng daripada keinginan moral.

Dari sebuah percakapan bersama Pak Kechik, kepala desa, benar kata orang tua jaman dulu,”air keluar dari pipe, api keluar dari tali”. Ini ungkapan masa depan yang diperkirakan orang tua dahulu. Air keluar dari pipe/pipa yang dimaksud keran dan sejenisnya. Api keluar dari tali maksudnya listrik yang mengalir melalui kabel. Zaman berubah, kebutuhan berubah. Manusia pun harus ikut beradaptasi.

Seharusnya, tak lagi ada orang tua yang berpikir pendidikan anak dinomorduakan atau bahkan tidak ada peringkatnya di mata mereka, tidak penting. “Buat apa kau sekolah?” “Mau jadi guru..” “Buat apa jadi guru? Guru sudah ada di sekolah sana!” Miris. Bingung. Heran. Sedih. Ini nyata. Ini ada. Dan ini harus berubah. Dimulai dari akhlak, semua turun ke pilihan setiap langkah hidup.

Kami bermimpi, ingin sama-sama membangun harap. Dengan kalian, untuk semua. Dari 2 x 24 jam di tanah ini, bertambah luas ikatan persaudaraan kau dan aku. Bertambah besar mimpi perjalanan dan kemanusiaan. Tentu berat. Tapi apa artinya ummat? Jika bukan untuk berjama’ah.

-catatan kaki manusia, mampir di tanah Pidie Jaya-

—-
Yuk bantu Aceh!

Transfer ke Rekening Desa Quran di BCA
no rek 5520999444
an Yayasan Desa Quran
Konfirmasi ke Yessy +628994646515
Sisipkan juga nomor unik 1 (@afrakids) atau 2 (@bangnanachips) atau 3 (@semutibrahim) atau 4 (@lain-lain) di akhir donasi agar penyaluran donasinya sesuai dengan akad.

Semoga ini menjadi catatan yang baik untuk kita di akhir tahun.

Desa Quran X Afrakids X Bangnana Chips X Semut Ibrahim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *